Menu Utama
Download
Kurs Mata Uang
Artikel

Pertemuan Bilateral Indonesia-Pakistan: Persetujuan Preferensi Perdagangan Siap Diimplementasikan

23 November 2012, 09:10:02 WIB

Islamabad, 22 November 2012 – Menteri Perdagangan RI, Gita Wirjawan, bersama Menteri
Perdagangan Republik Islam Pakistan, Makhdoom Amin Fahim, kemarin (21/11) mengadakan
pertemuan bilateral di sela-sela Developing Eight (D-8) Organization for Economic Cooperation
Summit guna membahas isu perdagangan bilateral terkini. Para Menteri mempromosikan
hubungan perdagangan yang semakin erat antara kedua negara yang sedang berkembang saat
ini.

Isu menarik yang diangkat pada pertemuan bilateral tersebut adalah upaya untuk
mengimplementasikan Preferential Trade Agreement (PTA) antara Indonesia dan Pakistan secara
penuh yang telah ditandatangani di Jakarta pada 3 Februari 2012. Indonesia meratifikasi PTA
bilateral tersebut melalui Peraturan Presiden Nomor 98/2012 tanggal 20 November 2012.

Melihat kemajuan signifikan dalam implementasi PTA bilateral ini, para Menteri Perdagangan
kedua negara mengharapkan peningkatan volume perdagangan yang pesat di tahun mendatang.
“Kesuksesan dan keefektifan implementasi PTA dapat mendorong peningktan volume
perdagangan bilateral dua kali lipat dalam waktu empat tahun. Kita harus berusaha untuk
mencapai target yang jauh lebih tinggi,“ kata Menteri Perdagangan.

Selain PTA, isu penting lain yang dibahas dalam pertemuan di Islamabad ini adalah Framework on
Comprehensive Economic Partnership (FACEP) Indonesia-Pakistan yang ditandatangani pada
tahun 2005. Dalam skema FACEP, kedua negara sepakat bahwa PTA merupakan batu loncatan
menuju perjanjian perdagangan bebas.

Kedua belah pihak meyakini bahwa PTA dan FACEP merupakan dua jalur penting untuk
meningkatkan hubungan perdagangan bilateral yang seimbang dan saling menguntungkan. Di
bawah PTA, Indonesia menyetujui untuk menawarkan akses pasar ke Pakistan dengan 216 pos
tarif preferensi. Daftar pos tarif tersebut meliputi produk ekspor yang diminati Pakistan seperti
buah segar, benang, bahan katun, pakaian jadi, kipas angin (untuk di plafon, meja, tumpu),
perlengkapan olah raga (badminton dan raket tenis), barang-barang dari kulit dan produk industri
lainnya. Indonesia juga menawarkan akses pasar untuk jeruk Kino dari Pakistan dengan bea
masuk sebesar 0%, yang akan menciptakan pasar yang bersaing di Indonesia.

Sementara, Pakistan menawarkan akses pasar ke Indonesia dengan total 287 pos tarif preferensi. Ini termasuk produk minyak kelapa sawit yang dapat dikonsumsi (crude oil, palm stearin, refined bleached deodorised palm oil, palm olein, crude oil of palm kernel), produk olahan gula, produk kakao, barang konsumsi (odol, sabun, dan deodoran), bahan kimia (polyacetals polycarbonates, sorbitol), peralatan makan dan minum, peralatan dapur, produk berbahan dasar karet, produk berbahan dasar kayu, produk pecah belah, serta produk elektronik.

Dalam perundingan bilateral tersebut, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan dan mitranya juga menyetujui untuk memupuk kerja sama di bidang kegiatan promosi seperti pameran perdagangan, pertukaran informasi antar kantor promosi perdagangan, dan program-program peningkatan kapasitas. Mereka juga melihat adanya kebutuhan untuk mengembangkan perjanjian Mutual Recognition Agreement (MRA) atau Country Recognition Agreement (CRA) untuk mengatasi berbagai masalah yang timbul dari pelaksanaan tindakan Sanitary and Phitosanitary (SPS), standar dan peraturan teknis di pasar masing-masing. Kedua Menteri mendiskusikan kemungkinan diadakannya Mutual Recognition Agreement (MRA) pada sektor hortikultura untuk memfasilitasi dan mempromosikan perdagangan bilateral Indonesia-Pakistan.

Statistik Perdagangan Indonesia-Pakistan

Perdagangan antara Indonesia dan Pakistan pada tahun 2010 mencapai USD 787,4 juta, dengan tren menurun sebesar -2,33% dalam 5 tahun terakhir. Namun, kinerja perdagangan menunjukkan pemulihan yang kuat pada periode 2011 sebesar USD 1,14 miliar dan menunjukkan pertumbuhan sebesar 60,58% (YoY).
Pada tahun 2011, ekspor Indonesia ke Pakistan terdiri dari lemak dan minyak dari binatang dan sayuran serta turunannya (USD 244,3 juta), bahan bakar mineral, minyak, produk distilasi (USD 182,3 juta); serat buatan (USD 83,1 juta); kertas dan kertas karton, barang-barang dari pulp, kertas dan kardus (USD 69,9 juta), buah-buahan, kacang-kacangan, kulit jeruk, dan melon (USD 58,8 juta).

Di sisi lain, impor utama Indonesia dari Pakistan pada tahun 2011 adalah kapas (USD 82 juta), biji-bijian (USD 39,3 juta), bahan baku kulit (selain kulit berbulu) dan bahan kulit (USD 15,6 juta), perunggu dan produk-produknya (USD 8,1 juta).

(sumber : kemendag.co.id )

Artikel Lainnya
Bidang dan UPT
Pegawai
Pengunjung
Hari Ini: 435
Total: 723546
Situs Terkait